Minggu, 25 September 2011

Ingin berprestasi?? Atur durasi tidur..


Tidur merupakan suatu keharusan untuk bisa melakukan kegiatan di hari berikutnya. Durasi tidur pada malam hari ternyata sangat mempengaruhi kesehatan tubuh seseorang, apalagi pada anak-anak.
Sebuah penelitian yang melibatkan 142 siswa sekolah dasar dilakukan untuk membandingkan jumlah jam tidur dengan kinerja keterampilan akademik. Bila jam tidur anak-anak kurang dari sembilan jam biasanya menemukan kesulitan dalam belajar di sekolah keesokan harinya.
Anak-anak berusia enam dan tujuh tahun yang kurang tidur cenderung akan sulit berkomunikasi dan mengerjakan matematika. Keahlian mengeja, tata bahasa yang digunakan, serta pemahaman mereka juga terganggu. Memori dan kemampuan belajarlah yang terpengaruh.
Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin banyak anak yang diijinkan menggunakan komputer dan televisi di kamar tidur mereka. Padahal, fasilitas ini memicu kurangnya tidur. "Saat ini ada kekhawatiran besar mengenai kebiasaan anak-anak menonton televisi, bermain game komputer atau video pada malam hari yang membuat mereka tidak tidur pada waktu yang sama setiap malamnya," kata Ramon Cladellas dari Universitas Autonomous di Barcelona.
"Kebanyakan anak waktu tidurnya kurang dari yang direkomendasikan, padahal ini penting untuk intelektual mereka. Bahkan, ini tidak dapat diperbaiki," tambah Cladellas.
Ingin Anak Berprestasi? Atur Durasi TidurnyaProfesor Russell Foster, kepala ilmu saraf di Universitas Oxford mengatakan, "Sudah jelas bahwa tidur mulai pukul 21.00 hingga pukul 09.00 dapat mengoptimalkan kinerja kognitif anak." Kebiasaan buruk tidur larut malam mempengaruhi kinerja anak dalam tugas sehari-hari, dan membuat mereka sulit menemukan solusi dari masalah yang lebih kompleks.
Nah, jika anak-anak membutuhkan waktu tidur selama 9 - 11 jam, orang dewasa hanya perlu 6,5 - 8,5 jam saja.

Pernikahan Selamatkan Kesehatan Penderita Kanker


Berumahtangga ternyata memiliki dampak positif bagi pasien kanker. Sebab pernikahan bisa meningkatkan harapan hidup bagi pria atau wanita yang terdiagnosa mengidap kanker
Seperti dikutip dari situs indiavision, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Penn State's College of Medicine and Brigham Young University menyebutkan kalau pasien kanker yang menikah memiliki kesempatan bertahan hidup 14 persen lebih besar ketimbang pasien kanker yang tidak menikah. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa catatan medis dari 127.753 pasien kanker.
Pasien yang telah berumahtangga cenderung tanggap akan kondisi tubuhnya. Hal itu membuat kanker bisa terdeteksi lebih awal. Tak hanya itu, mereka juga cenderung mencari pengobatan yang lebih baik.
Pernikahan Selamatkan Kesehatan Penderita Kanker"Mengetahui lebih awal dan mengendalikan kanker. Itu kuncinya," kata Sven Wilson, salah satu peneliti dalam studi ini.
Faktor lain adalah, pasangan bisa jadi teman sejati untuk menghadapi kanker. Hal tersebut bisa menumbuhkan harapan untuk sembuh bagi si pasien.
Awalnya para peneliti hanya mengetahui kalau pernikahan dapat memperbesar harapan hidup bagi pasien kanker usus dalam berbagai stadium. Kemudian para peneliti juga mendapati kalau pernikahan juga bisa menyelamatkan pasien kanker jenis apa saja.

Darah Rendah dan Kehilangan Keseimbangan

Apakah  anda pernah merasa seperti kehilangan keseimbangan? Misalnya, meskipun kepala tidak merasa pusing tetapi tidak dapat berjalan lurus bahkan hampir menabrak apa yang ada di sekitarnya. 
Gejala seperti itu dikenal sebagai vertigo. Istilah vertigo berkaitan dengan sensasi rasa gerak tubuh atau lingkungan sekitar yang dapat disertai dengan gejala gangguan keseimbangan tubuh.

Selain itu Vertigo dapat pula dirasakan seperti pusing berputar, pening serta sempoyongan dengan perasaan melayang atau bahkan merasakan dunia di sekelilingnya seperti sedang berjungkir balik.
Vertigo disebabkan oleh gangguan pada alat keseimbangan di kedua sisi tubuh yang berada di daerah telinga, maupun dapat disebabkan pula oleh adanya ketegangan mental dan psikologis, serta ikut dipengaruhi oleh dunia luar yang bergerak, penglihatan dan susunan saraf autonom.
Terdapat berbagai jenis vertigo dimana setiap jenis vertigo memiliki segi yang khas dan dapat diketahui melalui pemeriksaan. Salah satunya, vertigo dapat dijadikan sebagai indikator kemungkinan gejala stroke. Sehingga untuk dapat mengetahui gejala vertigo lebih dalam dapat pula dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi seperti pemindaian otak melalui CT-Scan / MRI.
Untuk vertigo karena indikasi stroke dan hipertensi salah satu anjuran dasar konsumsinya adalah dengan mengurangi takaran garam dalam asupan makanan.

Penelitian: Kopi Tak Menimbulkan Risiko Hipertensi


Kopi sering jadi musuh bagi orang-orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi, termasuk penyakit jantung dan stroke. Namun, sebuah penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa tidak ada bukti kopi dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Penelitian: Kopi Tak Menimbulkan Risiko HipertensiAmerican Journal of Clinical Nutrition dalam jurnalnya melaporkan hasil penelitian setelah menggabungkan dengan studi sebelumnya, yang meneliti dengan responden 170.000 orang. "Kebiasaan minum kopi 3 cangkir sehari tidak ada kaitannya dengan peningkatan risiko hipertensi," kata Liwey Chen, peneliti dari Kesehatan Masyarakat Universitas Louisiana di New Orleans.
Tapi ini bukan berarti bahwa minum banyak kopi tidak memiliki risiko sama sekali. Risiko hipertensi bagi mereka yang minum 3 cangkir kopi sehari tentunya sedikit berbeda dari mereka yang minum kurang dari 3 cangkir.
"Menurut saya, kopi tidak menimbulkan risiko tekanan darah tinggi," kata Lawrence Krakoff, peneliti dari Mount Sinai Medical Center, New York.
Menurut Krakoff, hubungan antara kopi dan tekanan darah tinggi memang sulit untuk dijelaskan. Maka, efeknya pasti berbeda pada setiap orang. Latar belakang genetik juga bisa menentukan bagaimana reaksi orang terhadap kopi. Minum kopi dalam jumlah besar mungkin aman bagi seseorang. Tetapi justru bisa berbahaya bagi orang lain.
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template